Fiksi · Hidup · Non-Fiksi

Senin dan Jumat

  Aku ingat senin siang kala pertama melihat parasnya dibalik hiruk pikuk kantek. Anggun, indah, manis, entahlah aku bingung memilih diksi apa untuk menggambarkannya. Wajahnya tak perlu melakukan usaha yang lebih untuk tersenyum. Rambutnya yang bergelombang digerai terbagi menjadi dua sisi yang sama indahnya. Aku melihatnya bagaikan gadis yang hidup di era 70-an, tenang, bersahaja,… Continue reading Senin dan Jumat