Uncategorized

Senin dan Jumat

 

Aku ingat senin siang kala pertama melihat parasnya dibalik hiruk pikuk kantek. Anggun, indah, manis, entahlah aku bingung memilih diksi apa untuk menggambarkannya. Wajahnya tak perlu melakukan usaha yang lebih untuk tersenyum. Rambutnya yang bergelombang digerai terbagi menjadi dua sisi yang sama indahnya. Aku melihatnya bagaikan gadis yang hidup di era 70-an, tenang, bersahaja, bagaikan ada beribu cerita menarik dibalik parasnya.

Begitulah dia, yang sekarang sedang memesan nasi goreng telur dadar.

Sudah dua bulan lebih aku hanya memandanginya dari kejauhan, begitu pengecutnya diriku ini. Sejak rambutnya yang dibelah dua hingga sekarang dengan poni yang terurai menutupi dahinya, namun aku masih terdiam di tempat yang sama.

Aku sudah bosan dengan semua usaha pasifku. Bosan dengan harapan dia membaca tulisan-tulisan membosankanku mengenainya di balik kaca meja kantek. Aku bosan dengan sedikitnya pengetahuanku mengenai dirinya, aku ingin tahu makanan favoritnya selain ayam kremes dan nasi goreng telur dadar.

Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Tapi bagaimana caranya? Minta bantuan temannya? Oh sungguh klise. Semua orang juga bisa seperti itu.

Sudahlah, aku tidak ingin berpikir panjang lagi.

Sekarang atau tidak sama sekali!

“Mbak isi 50 ribu ya” ujarku di tempat pengisian TapCash.

Aku berjalan dalam kesunyian kantek di jumat siang. Setapak demi setapak menuju tempatnya berdiri.

Aku terdiam di sampingya. Baru kali ini aku sedekat itu dengannya. Nafasku mulai tak beraturan, begitu juga irama jantungku.

“Mas Azir, mie goreng ya, telurnya double, ceplok”, aku tidak terlalu suka dadar.

Lima, sepuluh, lima belas detik. Detik demi detik kian berlalu.

Aku hanya dapat bersembunyi di balik rambutku yang hampir sepanjang rambutnya.

Mas Azir memberikan bungkusan nasi goreng itu kepadanya, dengan bodoh aku meraih bungkusan itu lebih dahulu. Ia menatapku kaget sembari berkata, “Maaf, itu aku duluan yang mesen..“

Aku dengan cepat mengulurkan tanganku dihadapannya, ia semakin bingung dengan tingkahku, jangankan kamu, akupun juga bingung dengan apa yang saat ini aku lakukan.

“Farhan, TI”

Dia terdiam. Menatapku dengan wajahnya yang bingung. Namun entah mengapa aku menangkap senyum kecil di bibirnya. Sepersekian detik ketika harapan itu muncul, dengan cepat ia mengambil bungkusan nasi gorengnya dari tanganku dan pergi meninggalkanku dalam bisu. Aku terdiam dalam tatapan kosong.

Mataku menyusuri sosoknya sambil membatin, “Ayolah balikkan badanmu, 1..2..3..”

Dia tidak berbalik.

Aku terdiam hampa. Namun sosok itu membalikkan badannya.

“Adeeva. Arsitektur.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s